1997; Peristiwa Bunuh Diri Sekte Heaven's Gate


Majalah Gatra, Nomor 6/IV, 27 Desember 1997 memberitakan sebanyak 40 pengikut sekte Heaven's Gate melakukan bunuh diri massal di Rancho Santa Fe, California, Amerika Serikat, awal April. Kelompok yang dipimpin Marshall Applewhite itu yakin bisa diangkut ke surga oleh piring terbang (UFO) yang melayang mengikuti lintasan komet Haley Bopp. Agar ikut terangkut, mereka melakukan bunuh diri dengan menenggak racun yang dicampurkan dalam adonan kue agar-agar.

Didirikan oleh Marshall Herff Applewhite dan Bonnie "TI" Lu Trusdale Netteles. Pada awalnya, mereka mendirikan HIM (Manusia Metamorfosis Individu; Human Individual Metamorphosis) pada tahun 1975. Setelah Bonnie meninggal karena terserang kanker tahun 1985, Applewhite mengubah nama HIM menjadi TOA (Penguasa Total Tanpa Nama; Total Overcame Anonymous) pada tahun 1993 dan memindahkan pusat kegiatannya ke San Diego dan mengganti nama TOA menjadi Heaven's Gate.

Para pengikutnya sangat percaya bahwa kehidupan manusia berasal dari makhluk angkasa luar (extraterrestrial: ET) yang diutus oleh kerajaan surga di langit (kingdom of heaven) dan turun ke bumi kira kira 2000 tahun yang lalu. Makhluk yang turun tersebut berjenis kelamin laki-laki, yaitu "DO" dan ditemani oleh teman wanitanya yang bernaina "TI". Mereka mengendarai pesawat ruang angkasa, dengan "DO" sebagai kaptennya dan "TI" sebagai salah satu admiral yang bertugas sebagai mitra pilot. Mereka sangat percaya bahwa Yesus merupakan bentuk tubuh yang telah dimasuki oleh kekuatan "DO" dan "TI" sehingga pada tubuh Yesus terdapat nilai-nilai surga.

Dipengaruhi kitab Injil Perjanjian Baru Wahyu, mereka sangat yakin bahwa ada hubungan yang erat antara UFO (Unidentified Flying Object) dengan manusia di bumi. Sehingga untuk menyelamatkan diri, manusia harus mampu berkomunikasi dengan UFO, karena roh yang ada di dalam tubuh manusia adalah UFO itu sendiri. Sedangkan tubuh sekadar kontainer atau tempat sementara UFO. Seseorang dapat langsung menuju kerajaan langit dengan cara bunuh diri. Dan pada tanggal 23 Maret 1997 yang lalu, para pengikut Heaven's Gate yang terdiri atas 21 wanita dan 18 pria, semua bunuh diri bersama-sama dengan cara minum racun dan kepalanya dibungkus plastik hitam. Mereka yakin bahwa dengan cara seperti itu, penderitaan dunia hilang dan rohnya akan segera menuju ke langit.

Ketika Kehampaan Spiritual Bertemu Dengan Fantasi Ilmiah

Masyarakat Amerika memang banyak membuat kejutan. Peristiwa bunuh diri massal terjadi akhir Maret 1997 di wilayah San Diego, California. Ini merupakan suatu tindakan irasional yang terjadi di tengah masyarakat Amerika Serikat yang sering dianggap paling modern dan rasional. Segera saja peristiwa tersebut menjadi topik utama baik di surat kabar maupun di mimbar televisi AS. Sebanyak 39 orang, 21 wanita dan 18 laki-laki ditemukan telah tak bernyawa dalam sebuah perumahan mewah yang disewa seharga 7000 dollar AS sebulan.

Hasil penyelidikan menyimpulkan, mereka mengakhiri hidupnya karena didorong oleh suatu keyakinan "pseudo-agama", bahwa tubuh wadag dan planet bumi ini hanya merupakan tempat transit sementara sedangkan tempat tinggal yang lebih indah dan ideal adalah di planet angkasa sebagaimana yang disajikan oleh film-film sci-fi (science fiction). Dengan persiapan yang tenang dan rapi mereka melepaskan tubuh wadagnya yang ditemukan membusuk itu dengan cara menelan semacam obat penenang overdosis dicampur pudding dan kemudian dengan rileks tidur telentang dan tidak bangun untuk selamanya.

Para penyidik mengidentifikasi mereka sebagai penganut "cultic religion" yang meyakini adanya proses evolusi kehidupan manusia menuju tingkat spiritualisme yang lebih tinggi di mana level itu tidak bisa terpenuhi kecuali seseorang berhasil mematikan naluri-naluri impulsifnya dan kemudian terlahir kembali di planet angkasa. Sebagaimana umumnya ciri gerakan agama kultus yang gandrung pada kepercayaan apokaliptik, kelompok yang menamakan dirinya Heaven's Gate ini hidup secara eksklusif, mengelompok di bawah seorang guru kharismatik bernama Marshall Herff Applewhite (66) dan mereka percaya bahwa planet bumi sudah di ambang kiamat. Oleh karenanya, kehadiran komet Hale-Bopp di penghujung millenium ini, begitu keyakinan mereka, adalah isyarat panggilan pada mereka untuk segera meninggalkan bumi dan segera kembali ke tempat asalnya yang jauh lebih indah, yaitu planet lain nun jauh di angkasa.

Kelompok yang terdiri dari para ahli komputer dan internet ini yakin bahwa apa yang sering diidentifikasi sebagai UFO dan makhluk angkasa itu benar-benar ada dan Hale-Bopp adalah komet yang telah mereka tunggu-tunggu yang akan menjemput dan mengantarkan mereka ke planet idaman. Mereka memantau gerak komet Hale-Bopp mendekati bumi melalui komputer, sementara para pakar astronomi mengatakan bahwa internet adalah wahana yang paling ideal dan paling bebas untuk menyajikan fantasi serta olok-olok ilmiah, termasuk tentang komet Hale-Bopp. Oleh karenanya, begitu menangkap tanda-tanda kehadiran komet Hale-Bopp, maka mereka lalu melakukan upacara bunuh diri tanda pelepasan dari planet bumi menuju planet lain.

Bagaimana kita memahami peristiwa ini? Komaruddin Hidayat, melalui tulisannya yang dimuat di Harian Kompas tanggal 19 April 1997 mencoba melihatnya dengan menggunakan analisa konsep langit suci (sacred canopy), sebuah pendekatan theodicy yang akhir-akhir ini dipopulerkan kembali oleh Peter Berger.

Berasal dari bahasa Yunani, theodicy secara harfiah berarti prinsip keadilan Tuhan yang kemudian dari sudut pandang filsafat agama dipahami sebagai sebuah formula rasionalitas metafisis yang muncul dari keyakinan iman ketika seseorang menghadapi peristiwa-peristiwa tragis agar yang bersangkutan bisa menerimanya dengan tabah, rasional tanpa harus menyalahkan Tuhan.

Menurut alur logika ini maka Tuhan selalu benar, adil, dan manusia selalu dalam pihak yang salah dan oleh karenanya kalau tertimpa tragedi harus dipahami sebagai hukuman Tuhan atas dosa-dosanya. Karena hidup manusia selalu dibayangi oleh peristiwa tragis, dan puncaknya adalah sebuah kematian yang tak terkalahkan, maka setiap pemeluk agama meyakini konsep theodicy sebagai sebuah pembelaan atas keadilan Tuhan dan agar bisa menjalani hidup dengan tabah dan tetap memiliki optimisme eskatologis.

Keyakinan akan keadilan Tuhan itu pada urutannya melahirkan konsep langit suci yang senantiasa memayungi manusia dan menyediakan jawaban atas semua peristiwa tragis yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Tanpa payung langit suci maka kehidupan menjadi absurd, tak bermakna dan kegelisahan akan selalu menyertainya. Tetapi bagi mereka yang menganut pandangan hidup ateistik-pesimistik, kehidupan manusia dilihatnya hanya sebagai kebetulan historis belaka dan memang tak lebih dari rangkaian derita dan kekalahan. Hidup adalah guyonan yang mengerikan (life is a terrible joke), yang akan berujung pada ketakberdayaan ketika kematian dengan angkuhnya mengakhiri untuk selama-lamanya.

Kemajuan iptek modern yang ikut membidani dan membesarkan kelahiran paham positivisme, membuat bangunan langit suci bagi sebagian masyarakat Barat semakin kabur dan koyak. Memang, pusat-pusat studi agama bermunculan, buku-buku dan jurnal keagamaan rutin diterbitkan, namun keyakinan dan praktek keagamaan tradisional semakin menipis bahkan yang subur adalah apa yang sering disebut sebagai pseudo-religion atau cultic religions yang masuk dalam kategori gerakan new age. Ketika sebuah komunitas agama masih hidup dalam satu kelompok yang eksklusif, terpisah secara total dari pemeluk agama lain, mereka mudah untuk meyakini bahwa di atas bumi manusia hanya terdapat satu langit suci.

Secara sosiologis-antropologis konsep langit suci berperan mengikat warga masyarakat karena ia disakralkan, dibela serta diwariskan secara turun-temurun sehingga dunia makna tidak goyah. Siapa yang menggugat dalil-dalil langit suci akan dikucilkan oleh masyarakat. Namun begitu, keutuhan dan keteduhan bangunan keyakinan itu goyah ketika batas-batas geografis dan kultural sebuah agama melebar dan kemudian bertemu dengan tradisi agama lain sehingga hamparan langitnya menjadi samar dan kelam. Ketika konsep keselamatan dan jawaban ultima dari sebuah tragedi digugat dan dikompetisikan, maka seseorang mudah menjadi gelisah dan jawaban iman yang selama ini dipegang erat-erat tidak lagi memberikan jawaban mujarab.

Dalam masyarakat Barat, di samping karena bertemu dengan tradisi agama Timur, sumber kegelisahan yang mengguncang tatanan langit suci terutama datang dari kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat positivisme yang mencabik-cabik konsep tradisional theodicy serta membongkar struktur psikologis sacred canopy (langit suci). Terkoyaknya langit suci ini semakin terasakan dengan meletusnya Perang Dunia II dan ketika lembaga serta doktrin agama tidak berdaya menghentikan krisis-krisis kemanusiaan dan bahkan ketika gama itu sendiri menjadi sumber tragedi dan konflik sosial. Tambahan lagi ketika teologi atau ajaran agama yang ditawarkan tidak sanggup menjawab serangan filsafat dan iptek modern.

Dalam kaitan ini maka Lester Kurtz mengritik konsep Peter Berger tentang sacred canopy yang indah dan tenang, padahal, kata Kurtz, yang lebih mendekati adalah sebagai "patchwork quilt", yaitu semacam hamparan langit kapas yang terdiri dari berbagai warna yang dari kejauhan tampak satu pada hal jika didekati sangat plural dan dinamis sehingga sangat mungkin juga terdapat bagian yang koyak (Gods in the Global Village, 1995). Peristiwa bunuh diri massal yang terjadi di Barat yang relatif beruntun itu secara signifikan juga telah mencabik hamparan langit suci dan sekaligus merupakan gugatan dan interupsi terhadap hegemoni doktrin agama (gereja) mengenai konsep keselamatan yang ditawarkannya karena dalam tradisi agama Semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam) melarang keras tindakan bunuh diri.

Sesatkah tindakan pengikut Heaven's Gate yang melakukan bunuh diri? Bagi mereka tentu tidak. Mereka yakin itu semua dilakukan bukan karena keputusasaan menjalani hidup, melainkan justru didorong oleh suatu keyakinan untuk memperoleh keselamatan. "Ibarat loncat dari pesawat terbang, mereka yakin menggunakan parasut, bukannya terjun bebas untuk bunuh diri", komentar psikolog Robert Baker dari Universitas Kentucky. Namun demikian dari catatan psikologis memang sulit dielakkan bahwa Marshall Applewhite sendiri pernah terkena gangguan jiwa, terutama setelah dirinya dipecat dari jabatannya sebagai dosen musik di Universitas St Thomas, Houston pada 1970, karena sering melakukan hubungan homoseksual dengan mahasiswanya.

Fenomena bunuh diri massal sebagaimana berulangkali terjadi di Barat jarang dijumpai di Timur, baik karena faktor kuatnya hubungan kekeluargaan (multi generational family) maupun agama. Bentuk hubungan sosial yang komunalistik di dunia Timur secara psikologis berperan memberikan akomodasi dan proteksi bagi seseorang sekalipun tertimpa tragedi hidup yang berat.

Untuk catatan, menurut Komaruddin Hidayat, staf ahli Yayasan Paramadina yang sementara ini aktif sebagai fellow researcher di Hartford Seminary, Connecticut, AS, teori-teori ilmu sosial produk abad pencerahan yang sangat memuja nalar dan keunggulan manusia dengan tema favoritnya demitologisasi dan sekularisasi terhadap alam, ternyata perlu didekonstruksi. Rupanya yang dimaksud alam adalah lingkungan bumi tempat berpijak, sementara batas akhir alam dengan segala isinya terlalu besar dan penuh misteri untuk bisa dipahami secara ilmiah.

Jika ditanyakan pada tokoh-tokoh evolusionisme yang menganggap agama adalah bagian dari primitive culture, lantas manakah yang lebih rasional antara mereka yang meyakini pewahyuan Tuhan melalui para Nabi dari mereka yang sudah merasa modern tetapi ternyata memuja UFO yang itu pun sebagian dikarenakan terkecoh oleh permainan komputer? Mengutip analisa Time (7 April 1997), kehampaan spiritual yang bertemu dengan fantasi ilmiah dan tumbuh dalam lingkungan junk culture ternyata bisa melahirkan perilaku yang aneh dan mengerikan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.